Arsip untuk Februari, 2008|Halaman arsip bulanan

Melindungi Dengan Keberanian

Oleh: Anis Matta

Kamu haruslah seorang pemberani kalau kamu mau jadi pecinta sejati. Orang-orang
yang kamu cintai harus merasa aman saat berada di dekatmu. Rasa aman adalah
aroma kepribadian para pecinta pemberani.

Kalau kita sudah memberi perhatian mendalam, melakukan kerja-kerja
penumbuhan, merawat cinta kasih dengan siraman kebajikan harian, hal terakhir yang
kita persembahkan kepada orang yang kita cintai adalah melindunginya: melindungi
jiwanya, raganya, masa depannya serta proses pertumbuhannya.

Tapi perlindungan bukan penjara bagi sang kekasih. Orang yang kita cintai
tidak boleh merasa bahwa perlindungan adalah cara kita untuk mempertahankan
‘kekuasaan’ dan ‘kepemilikan’ atas dirinya. Perlindungan adalah langkah-langkah
proteksi yang bersifat antisipatif untuk memastikan bahwa orang yang kita cintai
menjalani proses kehidupannya secara aman, baik fisik maupun psikis, dan proses
pertumbuhannya berjalan baik tanpa gangguan berarti yang bias menggagalkannya.

Yang terakhir ini, misalnya, gangguan lingkungan pergaulan dan kultur yang bisa
merusak nilai-nilai yang kita tanamkan untuk menumbuhkan orang-orang yang kita
cintai. Jadi perlindungannya bersifat menyeluruh: fisik, psikis, dan moral bahkan
finansial.

Semua bentuk perlindungan itu hanya mungkin dilakukan para pecinta
pemberani. Keberanian mereka juga menyeluruh: keberanian moral dan keberanian
fisik. Orang-orang yang kita cintai harus menikmati sebuah perasaan yang kuat saat
berada di sekitar kita bahwa mereka bebas dari rasa takut, sekaligus gembira karena
kepercayaan yang kuat bahwa jauh dari luar dirinya ada kekuatan cinta yang bekerja
secara diam-diam dan penuh keberanian untuk melindungi proses pertumbuhannya.

Dalam banyak situasi, proses perlindungan itu mengharuskan kita berkorban
apa saja, termasuk jiwa. Dalam makana pengorbanan yang tulus itulah cinta
menemukan kesejatiannya. Dan keindahannya, sekaligus. Apakah ada riwayat
percintaan dalam sejarah manusia yang menggugah nurani kita selain karena ia
dipenuhi keringat, airmata, dan darah, tanpa akhir? Pengorbanan dalam sejarah cinta
seperti pelangi yang menghiasi langit kehidupan. Atau tetesan darah yang akan
menjadi saksi bagi para syuhada di hadapan Allah: saksi atas cinta dan rindu yang tak
pernah selesai.

Itu sebabnya cinta sejati selalu melahirkan sifat-sifat ksatria, keterhomatan,
kedermawanan, kesetiaan dan pengorbanan. Karena sifat-sifat itulah yang memberi
kekuatan pada cinta, dan membuatnya penuh daya gugah. Sifat-sifat itu semua
mengalir dari mata air: kecemburuan. Kecemburuan adalah semangat pembelaan yang
lahir dari cinta sejati. Ia hanya menjadi negatif ketika dia lahir dari semangat
menguasai dan memiliki.

Dalam makna pembelaan itulah Rasullullah saw bersabda, “siapa yang mati
karena membela harta dan keluarganya maka ia mati syahid”.

———–

jadi ingat kisah Abu Bakar As Shiddiq Radiallahu Anhu…yang senantiasa melindungi Rasulullah dengan kebenaran-NYA

my soulmate

my soulmate kokom ^_^

setiap hari bersamanya…semoga amal ibadahmu diterima ya kom…kamu berjasa banget deh !!!

bersama pagi

entah kapan kebersamaan pagi itu terulang lagi…

semua sudah saling berpisah

setiap pertemuan pasti ada perpisahan

Nyanyian Sahabat – Cokelat

Filed under: Cokelat

Jangan lagi kau meragu
Aku ada di sampingmu
Berbagi hujan dan mentari
Melukis angan di hati

Saat hidup t’rasa berat
Genggam tanganku lebih erat
Satukan langkah sehati
Menggapai mimpi-mimpi

(*) Tatap bintang bersinar terang di sana
Sebagai tanda kita selalu bersama

Reff: Saat air mata membasahi relung jiwamu
Nyanyikan lagu ini denganku
Akan ada selalu sudut hangat di hatiku
Ku tahu begitu pula di hatimu

Begitu banyak cerita
Berjuta kenangan yang ada
Berbeda telah terbiasa
Mendewasakan kita

Saat hidup terasa berat
Genggam tanganku lebih erat
Satukan langkah sehati
Menggapai mimpi-mimpi

******

to: my best

bukan maksusku ingin berbagi nasib

nasib adalah kesunyian masing2

*chairil anwar

Cinta Terkembang Jadi Kata

Oleh: Anis Matta

Selalu begitu. Cinta selalu membutuhkan kata.
Tidak seperti perasaan-perasaan lain,cinta lebih membutuhkan kata lebih dari apapun. Maka ketika cinta terkembang dalam jiwa tiba-tiba kita merasakan sebuah dorongan yang tak terbendung untuk menyatakannya. Sorot mata takkan sanggup menyatakan semuanya.

Tidak mungkin memang. Dua bola mata kita terlalu kecil untuk mewakili semua makna yang membuncah di laut jiwa saat badai cinta datang. Mata hanya sanggup menyampaikan sinyal pesan bahwa ada badai di laut jiwa. Hanya itu. Sebab cinta adalah gelombang makna-makna yang menggores langit hati, maka jadilah pelangi; goresannya kuat, warnanya terang, paduannya rumit, tapi semuanya nyata. Indah.

Itu sebabnya ada surat cinta. Ada cerita cinta. Ada puisi cinta. Ada lagu cinta semuanya adalah kata. Walaupun tidak semua kata mampu mewakili gelombang makna, makna cinta, tapi badai itu harus diberi kanal; biar dia mengalir sampai jauh. Cinta itu membuat makna-makna itu jadi jauh lebih nyata dalam rekaman jiwa kita. Bukan hanya itu. Cinta bahkan menyadarkan kita; langit, laut, gunung, padang rumput, tepi pantai, gelombang, purnama, matahari, senja, gelap malam, cerah pagi, taman bunga, burung-burung….

tiba-tibasemua itu punya arti….
tiba-tiba semua wujud itu masuk ke dalam kesadaran kita….
tiba-tiba semua wujud itu menjadi bagian dari kehidupan kita….
tiba-tiba semua wujud menjadi kata yang setia menjelaskan perasaan-perasaan kita….
tiba-tiba semua wujud itu berubah menjadi metafora-metafora yang memvisual-kan makna-makna cinta.

Itu sebabnya para pecinta selalu berubah menjadi sastrawan atau penyair atau penyanyi….atau setidak-tidaknya menyukai karya-karya para sastrawan, menyukai puisi, atau mau belajar melantunkan lagu. Bukan karena ia percaya bahwa ia akan benar-benar menjadi sastrawan atau penyair atau penyanyi yang berbakat…. Tapi semata-mata ia tidak kuat menahan menahan gelombang makna-makna cinta.

Cinta membuat jiwa kita jadi halus dan lembut…
maka semua yang lahir dari kehalusan dan kelembutan itu adalah juga makna-makna yang halus dan lembut….hanya katalah yang dapat mengurainya, menjamahnya perlahan-lahan sampai ia tampak terang dalam imaji kita.

Puisi “Aku Ingin”nya Sapardi Djoko Damono mungkin bisa jadi sebuah
contoh bagaimana kata mengurai dan menjamah makna-makna itu….
Apakah Sapardi sedang jatuh cinta itu atau sedang memaknai kembali cintanya?
Saya tidak tahu! Tapi begini katanya:

Aku ingin mencintaimu
dengan cara yang sederhana
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu
dengan cara yang sederhana
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

—————————————–

for my best…
my mom n dad
*sejuk
*vie…atas semangatnyah!!!
*nurul

*yg slalu ku ingat kalo lht karyanya andrea hirata

Halaman Berikutnya »